Film Mantagi, Menyusuri Batanghari dan Menghidupkan Kembali Kesadaran Manusia di Wilayah Jambi
- account_circle Andi
- calendar_month Selasa, 17 Feb 2026
- visibility 69
- comment 0 komentar

JEJAK – Film Mantagi hadir sebagai karya sinema antologi yang mengangkat relasi manusia dan air melalui perjalanan hulu hingga hilir Sungai Batanghari. Lewat lima cerita yang berdiri sendiri, film ini merangkai satu benang merah tentang kesadaran atau yang disebut sebagai “mantagi” yang kian memudar dalam diri manusia.
Pengambilan gambar dilakukan di sejumlah wilayah di Provinsi Jambi, yakni Kabupaten Kerinci, Merangin, Muaro Jambi, dan Tanjung Jabung Timur. Keempat daerah tersebut dipilih bukan sekadar sebagai latar, melainkan sebagai representasi bentang Melayu Jambi, baik dari sisi budaya maupun lanskap ekologisnya.
Sutradara sekaligus produser film, Taufik, menjelaskan bahwa Mantagi mengikuti alur Sungai Batanghari sebagai simbol kehidupan, dengan tema besar hubungan manusia dan air.
“Yaitu hubungan antara manusia dan air itu sendiri, cerita dalam film ini akan diperankan oleh tokoh-tokoh utamanya masing-masing,” ujarnya saat ditemui di Taman Budaya Jambi, Selasa (17/2/2026).
Bagi Taufik, “Mantagi” bukan sekadar judul, melainkan gagasan filosofis yang menjadi ruh film ini.
“Seperti kesadaran, nalar, Budi, atau Budi pekerti, dan itulah yang disebut mantagi yang ada dalam diri kita, dan sekarang kebanyakan sudah hilang dari tubuh kita, manusia sekarang banyak melupakan, kesadaran kita sebagai manusia yang hidup di bumi ini,” ujarnya.
Ia menilai, hilangnya “mantagi” membuat manusia kian jauh dari alam dan kehilangan kepekaan terhadap sumber kehidupan, terutama air. Karena itu, film ini dihadirkan sebagai refleksi sekaligus pengingat.
Dalam salah satu cerita, karakter Mr X yang diperankan Husni menjadi representasi perjalanan batin manusia menuju penyadaran. Peran tersebut menuntut eksplorasi emosi yang mendalam.
“Mr x itu sendiri orang yang mempuasakan hasratnya ketika dia dipenuhi dengan perjalanan pengalaman untuk sampai ketingkat penyadaran, sehingga apapun yang dilaluinya adalah keindahan,” ucapnya.
Proses produksi Mantagi melibatkan pelaku seni dan masyarakat di berbagai lokasi syuting. Keterlibatan warga menjadi bagian penting dalam menghadirkan nuansa yang autentik dan menyatu dengan realitas sosial di sekitar Sungai Batanghari.
Jamal, yang turut terlibat dalam produksi, bahkan merasakan langsung perubahan kondisi air yang menjadi simbol utama film ini.
“Sampai saya minum air itu untuk menyatuh jadi bagian situ, kita bisa lihat disitu air sudah keruh, kita jadi punya sudut pandang berbeda dengan air, air itu sudah tidak asyik lagi dalam bayangan kita, sudah keruh,” ujarnya.
Selama hampir satu bulan proses syuting, Mantagi dirancang bukan hanya sebagai tontonan, tetapi juga sebagai ruang kontemplasi. Melalui lima kisahnya, film ini berupaya menghidupkan kembali “mantagi” kesadaran kolektif manusia untuk kembali menghargai air, alam, dan kehidupan itu sendiri.
- Penulis: Andi
- Editor: Ferdy
- Sumber: Jambijejak

Saat ini belum ada komentar