Breaking News
light_mode
Beranda » Budaya » Senandung Jolo melahirkan karya bertajuk Bejolo di Ujung Tanjung Muara Jambi

Senandung Jolo melahirkan karya bertajuk Bejolo di Ujung Tanjung Muara Jambi

  • account_circle Andi
  • calendar_month Kamis, 4 Des 2025
  • visibility 114

JEJAK – Pergelaran seni yang melibatkan ratusan anak-anak ini untuk mewariskan tradisi dan merawat ekosistem karya budaya.

Senandung Jolo merupakan tradisi lisan milik masyarakat Desa Tanjung, Kecamatan Kumpeh, Kabupaten Muaro Jambi. Tradisi terus berkembang karena masyarakatnya piawai mengolah pantun menjadi nyanyian, untuk merespons lingkungan. Terbatasnya jumlah penutur Senandung Jolo membuat tradisi ini terancam punah.

Sanggar Seni Mengorak Silo yang menjadi rumah Senandung Jolo, kini menyisakan tiga penutur yakni Wak Degum, Wak Zuhdi dan Wak Mariam. Tahun ini mereka menerima hibah Dana Indonesiana dari Kemdikbudristek.

Untuk mewujudkan merdeka belajar dan merdeka berbudaya mereka pun berkoloborasi dengan seniman musik yakni Muhammad Taufiq Hidayat, Fino Andreka, Dwi Putra Yan Ramadona dan Anggi Okfrida. Kemudian seniman tari perempuan, Ajeng Briliant serta seniman teater Suwandi Wendy.

Wujud kolaborasi mementaskan karya Bejolo di Ujung Tanjung yang menawarkan pengalaman impresif dan imersif (immersive).

Sebuah karya pertunjukkan yang menggabungkan berbagai elemen seni dan teknologi. Dan menggunakan pendekatan interaktif dan multisensorial untuk merayakan kekayaan kesenian Senandung Jolo sembari menjebatani tradisi dan inovasi kontemporer.

Dalam dunia yang semakin global, penting untuk menjaga dan mempromosikan warisan budaya kita dengan cara yang dapat diterima dan dinikmati generasi muda dan audiens internasional. Bajolo do Ujung Tanjung bukan hanya tentang pengembangan kesenian tradisional dalam upaya menjaga warisan budaya tapi juga tentang menciptakan masa depan yang lebih kaya, beragam dan harmonis.

“Kolaborasi bersama maestro adalah kunci untuk menghormati masa lalu sambil membangun jembatan menuju masa depan yang lebih baik,” kata Muhammad Tuafiq Hidayat, Sabtu (20/7/2024).

Ia mengatakan melalui kombinasi musik, tari, teater dan sastra pada pementasan Bejolo di Ujung Tanjung menciptakan sebuah narasi yang mengajak penonton, untuk menjelajahi dan merasakan berbagai aspek dari setiap kreativitas, perjalanan emosional dan kultural setiap individu dalam menafsirkan harmoni antara tradisi dan modrenitas.

“Setiap elemen seni tidak hanya ditampilkan secara terpisah tetapi juga diintegrasikan secara harmonis untuk menghasilkan pengalaman yang tak terlupakan yang diharapkan dapat memperkaya pemahaman audiens tentang Senandung Jolo dan potensi kreatifnya dalam konteks dunia hari ini,” kata Taufiq.

Pewarisan Tanpa Batas

Senandung Jolo berkembang di Desa Tanjung. Tetapi pewarisan tak terbatas ruang dan waktu yang mencari ‘inang’ untuk tumbuh di setiap zaman. Dengan mengajarkan Senandung Jolo kepada ratusan anak yang berada di Kecamatan Kumpeh, maka proses pewarisan sudah berjalan.

Setidaknya dalam diri anak-anak muncul rasa kepemilikan terhadap karya budaya yang telah menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia.

“Kita ingin mewariskan tradisi Bejolo pada anak-anak, generasi selanjutnya yang akan mengisi zaman. Agar proses pewarisan lebih kuat dan mendalam, kita harus berkolaborasi dengan seniman lain dan banyak pihak,” kata sang maestro, Zuhdi.

Ketua Sanggar Seni Mengorak Silo merasa terharu ketika anak-anak naik ke atas panggung dengan penuh percaya diri. Senandung Jolo dirayakan dengan gemilang dan diapresiasi secara mendalam. “Agenda yang berjalan sudah sesuai amanat Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan,” kata Zuhdi.

Meskipun pewarisan sudah berjalan dengan baik, Zuhdi masih menyisakan kecemasan, sebab daya dukung ekosistem karya budaya Senandung Jolo mulai terganggu.

Gangguan budaya asing, tentu berpotensi meruntuhkan kebanggan generasi muda terhadap budaya lokal. Sehingga dia berharap karya budaya yang telah menjadi WBTB Indonesia dapat diajarkan ke sekolah secara rutin.

Isu Perempuan dan Lingkungan

Seniman tari Perempuan, Ajeng Briliant menilai aktivitas tradisi Senandung Jolo begitu kuat dengan aktivitas para Perempuan. Aktivitas perempuan di sawah mulai dari gotong royong menugal (tanam padi) sampai dengan panen senantiasa menyelipkan Senandung Jolo.

Aktivitas Senandung Jolo yang berkaitan dengan pertanian sedikit menurun, karena adanya pergeseran mata pencarian dari sawah ke perkebunan sawit. Sehingga sedikit sekali Perempuan yang terlibat dalam aktivitas Bejolo.

Hal senada disampaikan Suwandi Wendy. Seniman teater ini menyumbang kritik sosial dalam garapan Bejolo di Ujung Tanjung. Menurunnya kualitas lingkungan turut mempengaruhi Senandung Jolo. Pasalnya bahan baku alat musik gambang, yang digunakan untuk menunjang pertunjukkan Bejolo kini sudah sulit ditemukan di alam.

Penyebab utamanya tentu alih fungsi hutan menjadi perkebunan sawit secara masif. Sehingga keberadaan kayu mahang sulit ditemukan. Padahal kayu mahang menjadi bahan baku utama, yang tak bisa digantikan dengan bahan lain.

“Kita harus melihat Senandung Jolo secara utuh, dari hulu sampai hilir. Tidak ada alat musik gambang yang baik, jika tidak ada kayu mahang. Semua itu berhubungan dan saling mendukung,” kata Wendy.

Pertunjukkan Bejolo di Ujung Tanjung akan mementaskan pertunjukkan mulai dari arak-arakan kompangan. Selanjutnya penonton akan digiring suara-suara Senandung Jolo untuk menghampiri panggung-panggung kecil. Pada panggung-panggung itu, anak-anak sudah bersiap untuk menghibur penonton dengan keterampilan memainkan berbagai instrumen musik, gerak, permainan anak tradisional dan silat kampung.

Selanjutnya pementasan panggung kecil akan ditutup dengan pembacaan piagam Batanghari, untuk mengingatkan publik tentang kearifan leluhur dalam menjaga mata air, hutan, sungai dan lingkungan. Kemudian baru muncul sajian utama, garapan musik bersama maestro, tari massal dan teater yang memikat.

  • Penulis: Andi
  • Editor: Anggun

Rekomendasi Untuk Anda

  • Candi Pematang Jering Didorong Jadi Cagar Budaya, Pemerintah dan Akademisi Satukan Komitmen

    Candi Pematang Jering Didorong Jadi Cagar Budaya, Pemerintah dan Akademisi Satukan Komitmen

    • calendar_month Senin, 24 Agt 2026
    • account_circle Andi
    • visibility 66
    • 0Komentar

    JAMBI JEJAK – Situs Candi Pematang Jering di Kabupaten Muaro Jambi didorong untuk mendapat status sebagai cagar budaya. Pemerintah daerah, Balai Pelestarian Kebudayaan, akademisi, hingga masyarakat lokal mulai menyatukan komitmen untuk memastikan situs bersejarah tersebut tidak luput dari upaya pelestarian. Komitmen itu dituangkan dalam petisi yang ditandatangani sejumlah pihak dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) […]

  • Karnaval Budaya hingga Cek Kesehatan Gratis Meriahkan HUT ke-81 RI di Lingkar Selatan Jambi

    Karnaval Budaya hingga Cek Kesehatan Gratis Meriahkan HUT ke-81 RI di Lingkar Selatan Jambi

    • calendar_month Minggu, 30 Agt 2026
    • account_circle Andi
    • visibility 86
    • 0Komentar

    JAMBI JEJAK – Beragam pakaian dan nuansa budaya mewarnai perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kelurahan Lingkar Selatan, Kecamatan Jambi Selatan, Kota Jambi, Minggu (30/8/2026). Warga dari RT 11, RT 12, RT 13, RT 41, RT 42, dan RT 43 tumpah ruah mengikuti karnaval budaya yang digelar sebagai bagian dari perayaan […]

  • Dari Jambi untuk Distopia: Puisi-Puisi Kegelisahan Novita Sari tentang Rumah dan Masa Depan

    Dari Jambi untuk Distopia: Puisi-Puisi Kegelisahan Novita Sari tentang Rumah dan Masa Depan

    • calendar_month Jumat, 26 Des 2025
    • account_circle Kurnia
    • visibility 122
    • 0Komentar

    JEJAK – Dari ruang kelas hingga lembaran puisi, Novita Sari (28) membuktikan bahwa kegelisahan bisa menjelma menjadi karya. Perempuan asal Jambi yang berprofesi sebagai guru ini kembali menorehkan jejak literasi melalui buku kumpulan puisi terbarunya yang sarat nuansa distopia dan ingatan akan tempat-tempat yang terus berkelana di benaknya. Melalui buku ini, Novita merangkai pengalaman hidup, […]

  • Film Mantagi, Menyusuri Batanghari dan Menghidupkan Kembali Kesadaran Manusia di Wilayah Jambi

    Film Mantagi, Menyusuri Batanghari dan Menghidupkan Kembali Kesadaran Manusia di Wilayah Jambi

    • calendar_month Selasa, 17 Feb 2026
    • account_circle Andi
    • visibility 176
    • 0Komentar

    JEJAK – Film Mantagi hadir sebagai karya sinema antologi yang mengangkat relasi manusia dan air melalui perjalanan hulu hingga hilir Sungai Batanghari. Lewat lima cerita yang berdiri sendiri, film ini merangkai satu benang merah tentang kesadaran atau yang disebut sebagai “mantagi” yang kian memudar dalam diri manusia.   Pengambilan gambar dilakukan di sejumlah wilayah di […]

  • Hello world!

    Hello world!

    • calendar_month Kamis, 4 Des 2025
    • account_circle pameranrockart@gmail.com
    • visibility 151
    • 0Komentar

    Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start writing!

  • Ketua DPRD Kota Jambi Kemas Faried soal Temuan BPK: Tata Kelola Penanganan TBC Harus Optimal

    Ketua DPRD Kota Jambi Kemas Faried soal Temuan BPK: Tata Kelola Penanganan TBC Harus Optimal

    • calendar_month Rabu, 14 Jan 2026
    • account_circle Anggun
    • visibility 122
    • 0Komentar

    JEJAK – Ketua DPRD Kota Jambi, Kemas Faried Alfarelly, menegaskan komitmen lembaganya untuk mengawal serius temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Perwakilan Provinsi Jambi terkait lemahnya efektivitas program penanggulangan Tuberkulosis (TBC) di Kota Jambi. Sorotan BPK tersebut tertuang dalam Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) kinerja atas efektivitas pelaksanaan program penanggulangan TBC tahun anggaran 2024 hingga triwulan III […]

expand_less